Rabu, 25 April 2018 Mangga 1
life
"Marahkah, kamu?"
"Menurutmu?"
"yowes."
Aku tersenyum kecut. Kemudian Aku tertawa sekeras-kerasnya. Aku lega bisa menertawakan hiduoku. Kamu memandangku sangat sinis. Hmmm... Ya, sangat sinis. Acuh, cuek, yah begitulah. Aku sudah faham. walaupun kamu selalu menyangkalkan bahwa Aku telah mengenalmu banyak. Jika Aku tak faham kamu, sudah pasti Aku tak sanggup menjadi temanmu. Aku bisa berikan posisiku sekarang pada siapapun wanita di alam dunia ini dengan senang hati, apabila ada yang mau dan sanggup menggantikan diriku.
"Kenapa dengan dirimu?"
"I'm fine."
Senyumku mengembang lagi dibalik topeng bopeng-bopeng. Rasa sakit dan luka yang berkali-kali kau torehkan itu sudah tidak terasa lagi pedih dan perihnya. Kau seakan bisa melukai diriku dengan baiknya dan gampangnya. Tak pernah tahu, apa dirimu merasa jika sedang melakukan itu. Namun Aku tak kan pernah bisa dan dapat untuk melukai hatimu. Pun tak bisa membalas perlakuan itu.
Kau membawaku di ujung siang terik ini, jauh dari populasi manusia. Jalannya berkelok-kelok, kadang memutar, kadang ik ak, melewati gunung pasir, padang tandus, sampailah pada sebuah rumah sederhana. Aku bahagia melihat rumah itu. Kemudian tanpa kata kau tinggalkan Aku. bengong, memandang punggungmu yang semakin menjauh dari sisiku.
Setelah kau menghilang dari pandangan, Aku duduk termangu di teras rumah. Tak tahu harus bagaimana. Tak ada kunci, tak ada petunjuk. Aku hanya memutar-mutari rumah itu.